“Pak, internet di rumah mati lagi!”
Pernah nggak dapat chat begitu dari orang rumah pas Bli lagi asik ngopi di kantor? Sebagai teknisi yang sigap (dan sayang keluarga), Bli langsung buka laptop, buka Winbox, masukkan IP Mikrotik rumah, dan…
Connecting… Connecting… Error: Could not connect to…
Jujur saja, ini adalah Momen Paling Menyebalkan dalam hidup seorang Admin Network. Rasanya pengen banting mouse. Padahal semalam di rumah lancar jaya, kenapa pas dari luar nggak bisa diakses?
Tenang, Bli nggak sendiri. Ini adalah “penyakit” umum pengguna internet rumahan (IndiHome, Biznet Home, dll).
Di artikel bonus ini, kita akan bongkar kenapa itu terjadi dan gimana cara mengakalinya GRATIS pakai fitur bawaan Mikrotik hAP lite Bli.
Masalahnya: “Rumah Bli Nggak Punya Alamat Asli”
Ibarat kirim paket, Winbox di kantor Bli butuh “Alamat Lengkap” (IP Public) router di rumah.
Masalahnya, provider internet rumahan itu pelit. Mereka nggak ngasih kita Alamat Asli (IP Public Static). Mereka cuma ngasih “Alamat Komplek” (IP Private / CGNAT).
Jadi pas Winbox Bli teriak “Halo IP 10.x.x.x, buka pintunya!”, yang nyaut bukan router Bli, tapi gerbang satpam providernya. Ya jelas ditolak.
Solusi 1: IP Cloud (Fitur Gratisan Mikrotik)
Kalau Bli beruntung (providernya ngasih IP Public Dynamic), Bli bisa pakai fitur IP Cloud. Ini semacam “Juru Catat” alamat. Walaupun alamat router Bli berubah-ubah, Mikrotik akan otomatis lapor ke server pusat.
Caranya gampang banget:
- Buka Winbox > menu IP > Cloud.
- Centang DDNS Enabled.
- Tunggu sebentar sampai statusnya “Updated”.
- Salin DNS Name yang panjang itu (contoh:
xxxxx.sn.mynetname.net).
Nah, di Winbox kantor, jangan masukkan IP angka, tapi masukkan DNS Name tadi.
Tapi Bli, kok statusnya “DDNS IP might be private”? Nah, itu tandanya Bli kena NAT Provider. Cara 1 GAGAL. Kita harus pakai Cara 2.
Solusi 2: Tunneling (Jurus Menembus Tembok)
Kalau Cara 1 gagal, artinya router Bli terkurung tembok provider. Kita nggak bisa masuk dari pintu depan. Solusinya? Kita suruh router di rumah yang “Gali Terowongan” (Tunnel) keluar!
Prinsipnya: Router rumah (Client) “menelpon” ke sebuah Router Pusat (Server) yang punya IP Public (misal VPS murah atau router kantor pusat).
Untuk hAP lite yang RAM-nya cuma seuprit (32MB) dan CPU-nya kecil, jangan pakai protokol berat (seperti OVPN dengan enkripsi tinggi). Kasihan, nanti dia pingsan.
Rekomendasi Protokol Ringan:
- L2TP/IPsec: Lumayan aman, didukung hampir semua HP/Laptop.
- SSTP: Paling ampuh nembus firewall kantor yang ketat, karena dia numpang lewat port HTTPS (443).
- WireGuard (RouterOS v7): Ini rajanya speed! Ringan banget dan kencang. Kalau hAP lite Bli sudah update ke v7, WAJIB pakai ini.
”Terus Saya Harus Punya VPS Dong?”
Idealnya iya. Tapi kalau Bli belum punya budget sewa VPS (Virtual Private Server), ada trik hematnya:
- Cari VPN Gratisan: Banyak penyedia VPN Tunnel gratis (seperti VPNRemote atau Tunnel.id) yang ngasih akun trial/free tier buat belajar.
- Nebeng Kantor: Kalau di kantor ada Mikrotik nganggur yang punya IP Public, jadikan itu sebagai “Server Pusat”. Router rumah Bli setting jadi “Client” yang lapor ke kantor.
PR Buat Bli:
Coba cek Mikrotik hAP lite di rumah. Masuk ke IP > Cloud. Apakah muncul tulisan merah “DDNS IP might be private”? Kalau iya, selamat! Bli resmi butuh belajar Tunneling di artikel-artikel berikutnya (Season 2).
Gimana? Sudah paham kan kenapa remote access itu sering gagal? Di seri Season 2 (Studi Kasus) nanti, kita akan praktek langsung cara setting VPN Tunnel ini biar Bli bisa pantau router rumah sambil liburan di pantai!